Minggu, 22 November 2015

gambar










makalah teory



Makalah Teory
Pendidikan Seni Rupa
(seni sebagai media dan pendidikan berbasis ilmu dalam pendidikan seni rupa)








Dosen Pengampu       : M. Reyhan F M.Pd
Prodi/prodi          : PGSD/3B

Anggota Kelompok 8
1.      Novi Alvi R
2.      ST Sholikah
3.      Henny pertiwi
4.      Defi Astriyani


STKIP PGRI TULUNGAGUNG
Jalan Mayor Sujadi No.7 Tulungagung Telp./ Fax 0355-321426 Email:stkippgritulungagung@gmail.com/website: stkippgritulungagung.ac.id
Tahun 2015






Kata Pengantar

            Puji syukur kami panjatkan kepada alloh swt sebab hanya atas rahmatnyalah makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya dengan lancar. Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada bapak dosen pembimbing karena membantu menyelesaikan makalah ini.

            Dengan di buatnya makalah ini, kami mengharapkan makalah ini dapat berguna bagi kita semua untuk menambah pengetahuan kita.

            Tentu saja makalah ini masih banyak kekurangannya, oleh karena itu kritik dan saranyang membangun dari semua pihak kami harapkan, demi kesempurnaan makalah ini.

            Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan mohon maaf jika terjadi kesalahan dalam penulisan dan smoga makalah ini dapat membantu mahasiswa dalam meraih prestasi yang lebih baik.


Tulungagung, 09  November  2015



Penyusun

Kelompok 8









DAFTAR ISI

SAMPUL.................................................................................................................1
KATA PENGANTAR…………………………………………………………...    2
DAFTAR ISI……………………………………………………………………..    3
BAB I  PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG……………………………………………………............4
RUMUSAN MASALAH…………………………………………………..........    4
TUJUAN…………………………………………………………………............    4

BAB II  PEMBAHASAN
SENI SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN......................................................         5
PENDIDIKAN BERBASIS ILMU DALAM PENDIDIKAN SENI RUPA. 7

BAB III  PENUTUP
KESIMPULAN…………………………………………………………….......       11
PENUTUP……………………………………………………………...............       11
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………..      12










BAB I
PENDAHULUAN


A.    LATAR BELAKANG
Pendidikan Seni dipakai sebagai mata pelajaran pada pendidikan sekolah didasarkan pada pemikiran bahwa, pertama, pendidikan seni memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Multilingual berarti melalui pendidikan seni dikembangkan kemampuan mengekspresikan diri dengan berbagai bahasa rupa, bunyi, gerak, dan paduannya. Multidimensional berarti dengan seni dapat dikembangkan kompetensi dasar anak yang mencakup persepsi, pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi, apresiasi, dan produktivitas dalam menyeimbangkan fungsi otak kanan dan kiri, dengan memadukan unsur logika, etika dan estetika. Multikultural berarti pendidikan seni bertujuan menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan berapresiasi terhadap keragaman budaya lokal dan global sebagai pembentukan sikap menghargai, toleran, demokratis, beradab, dan hidup rukun dalam masyarakat dan budaya yang majemuk (Depdiknas 2001:7). Pendidikan seni meliputi semua bentuk kegiatan tentang aktivitas fisik dan nonfisik yang tertuang dalam kegiatan berekspresi, bereksplorasi, berkreasi dan berapresiasi melalui bahasa rupa, bunyi, gerak dan peran. (Rohidi 2000:7). Melalui pendidikan seni anak dilatih untuk memperoleh keterampilan dan pengalaman mencipta yang disesuaikan dengan lingkungan alam dan budaya setempat serta untuk memahami, menganalisis, dan menghargai karya seni. Tegasnya pendidikan seni di sekolah dapat menjadi media yang efektif dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, dan sensitivitas anak.
Tujuan pendidikan seni juga dapat dilihat sebagai upaya untuk mengembangkan sikap agar anak mampu berkreasi dan peka terhadap seni atau memberikan kemampuan dalam berkarya dan berapresiasi seni. Kedua jenis kemampuan ini menjadi penting artinya karena dinamika kehidupan sosial manusia dan nilai-nilai estetis mempunyai sumbangan terhadap kebahagiaan
manusia di samping mencerdaskannya. Pendidikan seni, dapat dijadikan sebagai salah satu sarana dalam membentuk jiwa dan kepribadian anak. Hal ini sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh Plato (dalam dalam Rohidi 2000:79) bahwa pendidikan seni dapat dijadikan dasar untuk membentuk kepribadian. Dalam hubungan ini seni merupakan bidang ilmu yang perlu dipelajari dan diapresiasi oleh peserta didik karena mengandung nili-nilai dan bermanfaat dalam kehidupan manusia. Oleh karenanya diperlukan rancangan yang berkaitan dengan proses pelaksanaan pembelajaran seni, baik kurikulum, metode, sarana maupun alat penunjangnya, dan juga tidak meninggalkan lingkungan sosial budaya setempat.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Arti dari seni sebagai media pendidikan ?
2.      Menjelaskan pendekatan berbasis ilmu dalam pendidikan seni rupa ?

C.    TUJUAN
1. Mengetahui arti dari seni sebagai media pendidikan.
2. Mengetahui pendekatan berbasis ilmu dalam pendidikan seni rupa.






















BAB II
PEMBAHASAN

A.    SENI SEBGAI MEDIA PENDIDIKAN
Pendidikan Seni, khususnya seni rupa hadir sebagai bagian integral dari prinsip pendidikan. Artinya, pendidikan seni rupa sebagai bagian dari pendidikan umum yang mendapat kewajiban (tugas ) utama melatih kepekaan rasa: estetis (keindahan), maupun apresiasi seni, melalui pembelajaran praktek berkarya seni rupa. Pembelajaran seni rupa yang dimaksudkan adalah pendidikan untuk anak yang didasari oleh pembinaan intelegensi rupa (visual intelligenci) dengan kemampuan memahami objek secara komprehensif maupun detail. Pemahaman terhadap objek dengan kinerja belajarnya melalui pengamata, asosiasi, pemahaman bentuk akhirnya berekspresi. Lingkup seni sebagai hasil aktivitas artistik yang meliputi seni suara, seni gerak dan seni rupa sesuai dengan media aktivitasnya. Media dalam hal ini mempunyai arti sarana yang menentukan batasan-batasan dari lingkup seni tersebut. Pemahaman tentang seni adalah merupakan ekspresi pribadi dan seni adalah ekspresikeindahan. Seperti yang dikemukakan oleh Cut Kamaril Wardani Surono (200:3), pendidikan seni yaitu:
1.    Pendidikan seni adalah sebuah cara atau strategi menamkan pengetahuan dan ketrampilan, dengan cara mengkondisikan anak atau siswa menjadi kreatif, inovatif, dan mampu mengenali potensi dirinya secara khas (karakteristiknya) serta memiliki sensitivitas terhadap berbagai perubahan sosial budaya dan lingkungan.
2.    Pendidikan kesenian adalah kegiatan membuat manusia agar mampu bertahan hidup dan mampu menunjukkan jati dirinya di masa depan. Maka kemampuan beragam bahasa (multi Ianguage) perlu dikembangkan melalui pendidikan untuk menghadapi pesatnya perkembangan kemampuan berbahasa non verbal: bunyi, gerak, rupa dan perpaduannya. Melalui kemampuan beragam bahasa seni (artistik), manusia diharapkan mampu memahami dan berekspresi terhadap citra budaya sendiri dan budaya lain (multi cultural). Pendidikan seni juga memiliki wacana multidimensional artinya pendidikan seni memiliki cakupan yang luas baik yang berkaitan dengan masalah budaya ataupun ilmu pengetahuan.





Tujuan Pendidikan Seni di Sekolah Dasar
Tujuan diberikanya pendidikan seni di SekolahDasar diantaranya sebagai berikut:
1.    Memberikan fasilitas yang sebesar-besarnya untuk dapat mengemukakan pendapatnya (ekspresi bebas),
2.    Melatih imajinasi anak, ini merupakan konskwensi logis darn kegiatan ekspresi,
3.    Memberikan pengalaman estetik dan mampu memberi umpan balik penilaian (kritik dan saran) terhadap suatu karya seni sesuai dengan mediumnya.
4.    Pembinaan Ketrampilan; diarahkan dengan membina kemampuan praktek berkarya seni dan kerajinan,
5.    Seni sebagai alat pendidikan dalam arti pendidikan seni dapat dilakukan melalui kegiatan permainan. Tujuan pendidikan seni dapat dilakukan melalui kegiatan permainan. Tujuan pendidikan seni bukan untuk membina anak-anak menjadi seniman, melainkan untuk mendidik anak menjadi kreatif. Seni merupakan aktifitas permainan, melalui permainan kita dapat mendidik anak dan membina kreativitasnya sedini mungkin. Dengan demikian dapat dikatakan seni dapat digunakan sebagai alat pendidikan.

Peran pendidikan kesenian dalam konstelasi kurikulum pendidikan adalah:
1.    Seni Sebagai Bahasa Visual Anak pada usia SD dalam kehidupannya sangat dekat dengan berkarya seni. Hampir bisa dikatakan bahwa perilaku anak dekat dengan kegiatan berkesenian; tiada hari tanpa berseni. Berseni merupakan, kebutuhan anak dalam:
a) mengutarakan pendapat,
b) berkhayal-berimajinasi,
c) bermain,
d) belajare. memahami bentuk yang ada di sekitar anak,
e) merasakan: kegembiraan, kesedihan, dan rasa keagamaan.

Dalam Konteks seni berperan mengemukakan pendapat, tampak ketika anak menyanyi atau menari ataupun menggambar bertema maupun tanpa tema. Karya seni mereka berikan tema Sesuai dengan keinginan pada saat itu; ketika anak membayangkan nikmatnya berada dalam ban-ban ibu, dan ibu menimangnya sambil menyanyikan lagu akan kembali muncul dalam bentuk gambar seorang perempuan dan kain. Ungkapan itu juga dapat berupa celotehan suaran menyanyi dan menirukan orang sedang menimang boneka. Namun, dapat pula berupa gambar tanpa bentuk, yang dimulai dari menggambar pesawat terbang yang indah dengan bentuknya yang khas anak, kemudia sealng beberapa menit gam,bar tersebut dicoret sampai menutup permukaan. Gambar pesawat yang semula sudah tidak nampak lagi. Disinilah ungkapan kesal pesawat musuh menembak pesawat idealnya.

2.    Seni Membantu Pertumbuhan Mental Ternyata contoh di atas merupakan perkembangan symbol rupa yang terjadi pada saat anak ingin menyatakan bentuk yang dipikirkan, dirasakan atau dibayangkan. Bentuk-bentuk tersebut hadir bersamaan dengan perkembangan usia mental anak. Pada suatu ketika anak pertumbuhan badan (biological age) lebih cepat daripada perkembangan pikiran (mental age). Ketidaksejajaran perkembangan anak tersebut menyebabkan pula perkembangan gambar anak dengan anak lain yang normal, oleh karena terjadi variasi gambar anak. Hal ini seiring dengan perkembangan nalar pada diri anak. Bagi anak yang mempunyai perkembangan berbeda, dimana fungsi nalar sudah berkembang lebih cepat dari pada ekspresinya, maka peristiwa tersebut berpengaruh juga dalam gambar.

B. PENDEKATAN PEMBELAJARAN SENI RUPA
Pembelajaran Pendidikan Seni dilaksanakan baik dengan pendekatan terpisah dan terpadu. Pendekatan terpisah ialah melaksanakan pembelajaran setiap bidang seni, sesuai dengan ciri-ciri khusus dan kesatuan substansi masing-masing. Pendekatan terpadu ialah melaksanakan pembelajaran yang memadukan bidang-bidang seni dalam bentuk seni pertunjukan, seni multimedia, atau kolaborasi seni. Pembelajaran Pendidikan Seni secara terpadu meliputi pembelajaran apresiatif dan produktif. Pembelajaran apresiatif secara terpadu dilaksanakan dengan kegiatan apresiasi terhadap karya seni yang merupakan perpaduan antara dua atau lebih bidang seni, baik secara langsung maupun melalui media audio-visual, misalnya pertunjukan musik, tari, teater, atau film. Pembelajaran produktif secara terpadu dilaksanakan dengan kegiatan berkarya dan penyajian seni yang melibatkan dua atau lebih bidang seni, misalnya dalam bentuk seni pertunjukan atau kolaborasi antar bidang seni. Alternatif pelaksanaan mata pelajaran Pendidikan Seni sebagai berikut. Sekolah yang memiliki lebih dari satu guru bidang seni, masing-masing guru memberikan pembelajaran seni sesuai dengan bidangnya secara terpisah. Siswa memilih salah satu bidang seni sesuai dengan minatnya. Pembelajaan secara terpadu dilaksanakan dengan kerja sama antara guru-guru bidang seni yang bersangkutan. Sekolah yang hanya memiliki guru salah satu bidang seni, guru tersebut melaksanakan pembelajaran seni sesuai dengan bidangnya, tetapi sedapat mungkin juga melaksanakan pembelajaran seni secara terpadu, sesuai dengan kemampuannya. Materi pokok yang bersifat teoritik tidak diberikan secara terpisah, tetapi secara integratif dengan materi kegiatan apresiasi seni, berkarya seni, kritik seni, dan penyajian seni. Pembelajaran yang bersifat praktek (berkarya) lebih berorientasi pada proses dari pada hasil, sehingga lebih menekankan usaha membentuk dan mengungkapkan gagasan kreatif dari pada kualitas komposisi yang dihasilkan.Dalam pembelajaran Pendidikan Seni, pengembangan sikap memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan keterampilan, dan pengetahuan. Untuk menunjang pembelajaran materi yang mengarah pada penguasaan keahlian profesional, termasuk menggambar dengan mistar (menggambar konstruksi), perlu ditunjang dengan program ekstrakurikuler, sesuai dengan bakat dan minat siswa.




















BAB III
PENUTUP


A.    KESIMPULAN
Seni pada dasarnya adalah permainan yang memberikan kesenangan batin (rohani), baik bagi yang berkarya seni maupun bagi yang menikmatinya,
sedangkanpendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan orang dewasa dalam membantu anak-anak mencapai kedewasaannya, maka tentunya pula seni rupa dapat digunakan sebagai cara dan sekaligus media untuk mendidik anak. Jadi makna pendidikan dengan menggunakan seni rupa sebagai cara dan sekaligus sebagai sarananya.
Pendekatan seni rupa berbasis disiplin ilmu (dicipline based art education, disingkat DBAE) berintikan pemikiran bahwa seni telah hadir dalam kehidupan bukan hanya sebagai kegiatan penciptaan, tetapi juga sebagai cabang pengetahuan yang menjadi bahan kajian filosofi maupun ilmiah dan berhak dipelajari di lembaga pendidikan.Pendidikan Seni Rupa Berbasis Disiplin merupakan suatu pendekatan dan bukan merupakan suatu metode yang spesifik, maka wujud penampilannya dapat yang bervariasi.Yang jelas, sasarannya adalah adanya peningkatan kemampuan anak dalam berbagai bidang kegiatan tersebut.


B.     SARAN
Semoga makalah yang kami susun ini bermanfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi semua pembaca.Mengingat  bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna begitupun dengan penyusunnya makalah ini yang masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif kami harapkan dari rekan – rekan maupun dari  dosen pengampu yang bersangkutan demi perbaikan makalah di masa mendatang.







DAFTAR PUSTAKA


Florean, Muhammad Reyhan . 2015. Pendidikan Seni Rupa dan Kerajinan  STKIP PGRI Tulungagung, (online), (psrpgsdstkippgritulungsgung.blogspot.co.id) , diakses  pada 09 oktober 2015.
Tanpa Nama. 2011.Sasaran pendidikan seni rupa, (online), (https://www.google.com/search sasaran pendidikan seni rupadisekolah umum), diakses pada 15 Oktober 2015

makalah seni rupa membutsir



Makalah
Pendidikan Seni Rupa dan Kerajinan
(Membutsir Patung dari Plastisin & Merangkai Barang Bekas)








Dosen Pengampu       : M. Reyhan F M.Pd
Prodi/prodi             : PGSD/3B

Anggota Kelompok 8
1.      Novi Alvi R
2.      ST Sholikah
3.      Henny pertiwi
4.      Defi Astriyani


STKIP PGRI TULUNGAGUNG
Jalan Mayor Sujadi No.7 Tulungagung Telp./ Fax 0355-321426 Email:stkippgritulungagung@gmail.com/website: stkippgritulungagung.ac.id
Tahun 2015






Kata Pengantar

            Puji syukur kami panjatkan kepada alloh swt sebab hanya atas rahmatnyalah makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya dengan lancar. Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada bapak dosen pembimbing karena membantu menyelesaikan makalah ini.

            Dengan di buatnya makalah ini, kami mengharapkan makalah ini dapat berguna bagi kita semua untuk menambah pengetahuan kita.

            Tentu saja makalah ini masih banyak kekurangannya, oleh karena itu kritik dan saranyang membangun dari semua pihak kami harapkan, demi kesempurnaan makalah ini.

            Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan mohon maaf jika terjadi kesalahan dalam penulisan dan smoga makalah ini dapat membantu mahasiswa dalam meraih prestasi yang lebih baik.


Tulungagung, 09  November  2015



Penyusun

Kelompok 8










DAFTAR ISI

SAMPUL.................................................................................................................1
KATA PENGANTAR…………………………………………………………...    2
DAFTAR ISI……………………………………………………………………..    3
BAB I  PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG……………………………………………………............4
RUMUSAN MASALAH…………………………………………………..........    4
TUJUAN…………………………………………………………………............    4

BAB II  PEMBAHASAN
MEMBUTSIR PATUNG DARI PLASTISIN......................................................    5
MERANGKAI BARANG DARI BAHAN BEKAS…………………………... 7

BAB III  PENUTUP
KESIMPULAN…………………………………………………………….......       11
PENUTUP……………………………………………………………...............       11
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………..      12










BAB I
PENDAHULUAN


A.    LATAR BELAKANG
Seni sebagai suatu bentuk ekspresi seniman memiliki sifat-sifat kreatif, emosional, individual, abadi dan universal. Sesuai dengan salah satu sifat seni yakni kreatif, maka seni sebagai kegiatan manusia selalu melahirkan kreasi-kreasi baru, mengikuti nilai-nilai yang berkembang di masyarakat.
Seni juga merupakan hal yang menjadikan dunia terasa indah, tanpa seni tidak ada yang dapat dirasakan begitu indah. Tuhan menciptakan dunia dan seluruh kekayaan yang ada di dalamnya dengan seni dan penuh dengan keindahan. Hal ini dapat terlihat dari beragamnya warna yang ada dalam dunia ini, air bewarna bening, tanah bewarna coklat, pepohonan yang berwarna hijau, langit bewarna biru. Semua diciptakan penuh dengan seni, sampai kepada ciptaanNya yang paling megah dan penuh dengan seni, yaitu manusia.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian dari membutsir ?
2.      Apa pengertian dari merangakai ?

C.    TUJUAN
1. Mengetahui pengertian dari membutsir.
2. Mengetahui pengertian dari merangakai.









BAB II
PEMBAHASAN


A.    Membutsir Patung dari Plastisin
Membutsir
Membutsir adalah membentuk tanah liat atau lilin (plastisin atau malam ) menjadi bentuk mainan, patung kecil atau bentuk tertentu berdasarkan daya cipta sebelum di bentuk, tanah liat sebaignya di bersihkan dahulu dari butiran batu atau pasir yang kasar, lembutkan adonannya dengan tangan. Jika terlalu lembek biarkan (diangin-anginkan) hingga kadar anginnya berkurang, dan jika di pegang tanah tidak lengket pada tangan kita. Namun jika menggunakan plastisin (lilin/malam), tidak akan terjadi masalah pengolahan bahan. Pada tahap pertama buatlah bentuk global (dari benda yang akan di ciptakan) kemudian buatlah bentuk rinciannya setahap demi setahap. Untuk menghaluskan permukaan bentuk, gunakan alat butsir (dari kawat/ kayu yang di buat menyerpai jari tangan).

Cara kerja memahat dan membutsir berbeda. Kegiatan memahat bahan yang digunakan dikurangi sedikit demi sedikit secara bertahap sehingga nanti memperoleh hasil sesuai dengan yang diinginkan. Kegiatan membutsir adalah menambah sedikit demi sedikit dan membentuk sampai sesuai dengan yang diinginkan.
Teknik butsir adalah teknik membuat patung dengan menggunakan bahan lunak (tanah liat, bubur kertas, malam butsir, dll). Bahan tersebut bersifat plastis (mudah dibentuk sesuai keinginan) Sedangkan bahan yang dapat dipakai dalam teknik ini antara lain tanah liat, plastisin, bubur kertas dan sejenisnya.
Untuk membuat patung dengan Teknik butsir, membutuhkan alat – alat sebagai berikut : sudip ,pisau, tali pemotong, rol penggilas serta pahat pendukung lainnya.
Bahan untuk membuat patung dengan teknik butsir adalah tanah liat, semen, plastisin, lilin, bubur kertas, sabun, dan gips.
 Proses pembuatan patung dengan teknik butsir adalah :
1.      plastisin
2.      Siapkan alat bantu butsir dan air
4.      Siapkan gambar rancangan patung
5.      Tempatkan plastisin di atas meja
6.      Pijat – pijat bahan hingga mendekati bentuk yang diinginkan secara global
7.      Jika bahan kurang bisa di tambah, sebaliknya bila berlebih bisa dikurangi
8.      Sempurnakan bentuk dengan alat bantu
9.      Berikan sentuhan akhir dengan pembentukan detail patung dan di haluskan
Membutsir dapat dilakukan sesuai dengan kreativitas masing-masing individu. Berikut adalah beberapa contoh membutsir sederhana dengan menggunakan plastisin.
Dengan tema”TANAMAN” subtema “BUAH-BUAHAN, Dibawah ini saya akan menjelaskan bagaimana cara  dari pembuatan plastisin itu sendiri sehingga bisa menghasilkan beberapa karya yang bisa dinikmati bersama, sebagai contoh tema diatas,caranya sebagai berikut:
Alat/bahan:
1.      Plastisin warna-warni
2.      Pisau kater
3.      Clemek
4.      Papan abon
5.      Serta tentukan tema apa yang ingin di buat
Cara pembuatannya:
1.      Pasang lah terlebih dahulu clemek, karena ini berguna agar pakaian yang kita gunakan tidak kotor terkena plastisin yang akan digunakan.
2.      Pilihlah warna apa yang digunakan untuk mengkreasikan karya kita tersebut, kemudian potong jika dianggap terlalu besar.
3.      Setelah dipotong, letakkan plastisin ditelapak tangan serta bulat-bulatkan plastisisn tersebut agar lentur .
4.      Setelah itu pakai teknik gulung, dengan cara mengambil sebagian yang kecil dari hasil pijatan tadi dengan meletakkan ke telapak tangan,Lalu gesekkan telapak tangan yang berisi plastisin tadi berulang kali, sampai plastisin yang kecil tadi membentuk panjang seperti mie(ukuran dan banyaknya sesuai dengan keinginan kita sendiri).
5.      Setelah selesei,susun seperti lingkaran dari yang kecil –besar atau tergatung apa yang kita inginkan, lalu kemudian ratakan bagian-bagian luar  yang terlihat bekas-bekas lingkaran serta buat tumpuan untuk keranjang. Agar keranjang bisa lengket pada papan abon yang telah disediakan tersebut sehinga membentuk seperti keranjang tanpa tentengan.



6.      Selanjutnya tugas kita ialah membuat tentengan untuk keranjang tersebut, dengan cara yang sma gesekkan plastsisin tadi berulang kali, sehingga membentuk  seperti mie kembali, untuk pembuatan tentengan keranjang disini , saya menggunakan dua warna agar perpaduannya lebih bagus untuk dilihat, setelah itu, pilinkan kedua plastisin yang panjang tadi, sehingga terbentuk.
7.      Setelah itu tempelkan pada keranjang tadi dengan perlahan.
8.     Setelah itu tugas kita ialah membuat berbagai macam bentuk buah-buahan yang
diinginkan, seperti strawberri,pisang,anggur,mangga,sirsak,dan manggis dengan cara mengambil seperlunya plastisin lalu membulatkannya, untuk pembuatan daun kita gunakan teknik sisik sehingga membentuk seperti kelopak.
9.      Setelah itu buat dua buah keranjang lagi untuk meletakkan buah-buahan yang telah dibuat tadi dengan cara mengambil secukupnya plastisin, lalu letakkan ditangan, lalu gunakan teknik pijat (sesuai keinginan hati untuk ukurannya), setelah itu gabungkan dengan tumpuan yang telah diletakkan diatas papan abon (agar keranjang bisa lengket dengan kuat).
10.  Setelah itu kreasikan sendiri sesuka hati di atas papan abo tersebut

B.    Merangkai Barang Dari Bahan Bekas
Marangkai ialah menyusun atau menyambungkan bagian benda yang satu ke benda yang lain hingga membentuk suatu komposisi yang utuh berkesatuan. Susunan atau rangkaian tersebut menciptakan struktur bentuk, baik bentuk abstrak ataupun naturalistis. Benda yang disusun bisa berupa buah- buahan, sayur-sayuran, bunga-bungaan, benda-benda bekas (limbah: kertas, dus, kaleng, botol plastik, kotak korek api, dsb). Teknik merangkai bermacam- macam, ada yang dihekter, dilem, dipatri, diikat, tergantung dari kebutuhan dan kemungkinan kekuatan dari konstruksi susunan tersebut. Kegiatan ini bisa berupa kegiatan: merangkai bunga, merangkai janur, merangkai manik-manik, membuat jembatan dari dus bekas, membuat maket rumah-rumahan dari kotak korek api, dan sebagainya.
Merangkai barang bekas dapat dilakukan sesuai dengan kreativitas masing-masing individu. Berikut adalah beberapa contoh merangkai barang bekas dari botol..
Ada banyak jenis kerajinan yang dapat kita buat. Botol bekas yang tidak terpakai bisa kita manfaatkan menjadi sebuah karya seni yang sangat indah dan bernilai jual tinggi. Sehingga kita bisa membuat sebuah Peluang Usaha dari kerajinan tangan ini.


 Aneka barang bekas yang dapat kita gunakan yaitu :
1.      Botol AQua Bekas.
2.      Botol Minuman Ringan Lainnya.
3.      Botol Obat-obatan.
4.      Botol dari perlengkapan dapur.
5.      Tutup botol dari setiap kemasan.
6.      Dan Lain Lain.

Jenis hasil karya yang bisa kita buat dengan plastik bekas aqua atau sejenisnya dapat kita manfaatkan sebagai hiasan atau sebagai alat bantu rumah tangga. Beberapa ide kreatif yang akan kami jelaskan dalam artikel ini benar-benar membuat kami kagum akan ide-ide tersebut. Dengan memilih botol plastik unik kita dapat menerapkan model dan jenis kerajinan yang berbeda.
Aneka kerajinan tangan dari botol bekas :
Kalung dari Botol Bekas
http://i2.wp.com/www.satujam.com/satujam/wp-content/uploads/2015/03/kalung.jpg?resize=710%2C434



Kebun Vertikal dari Botol Beka
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkdjhOFcKjCQjbMuU1R3vlNVfpP4r2ymeWeS0e8fAElnpq_lRdpBQU4Nf__dsWy531dltiiu8HUAlCvcsDTOGAxvorr-ellUW9RGcOTnOWXNPnHEbSMU_RZlXFzbXKzFnM0FgYJCcBZIcU/s962/KITAR+SEMULA.jpg
Lampion dari kaleng Bekas.

http://static.republika.co.id/uploads/images/inline/lanter_tin_can.jpg 

Tempat tisu dari kertas Bekas.
http://pelatihankreasikertaskoran.esy.es/wp-content/uploads/2013/03/kerajinan-tangan-Kreasi-Kertas-Koran-Tempat-Tissue.png







BAB III
PENUTUP


A.    KESIMPULAN
Membutsir adalah membentuk tanah liat atau lilin (plastisin/malam) menjadi bentuk mainan, patung kecil atau bentuk tertentu berdasarkan daya cipta. Membutsir dapat dilakukan sesuai dengan kreativitas masing-masing individu.
Untuk membuat patung dengan Teknik butsir, membutuhkan alat – alat sebagai berikut : sudip ,pisau, tali pemotong, rol penggilas serta pahat pendukung lainnya.Bahan untuk membuat patung dengan teknik butsir adalah tanah liat, semen, plastisin, lilin, bubur kertas, sabun, dan gips.
Marangkai ialah menyusun atau menyambungkan bagian benda yang satu ke benda yang lain hingga membentuk suatu komposisi yang utuh berkesatuan. Susunan atau rangkaian tersebut menciptakan struktur bentuk, baik bentuk abstrak ataupun naturalistis. Banyak sekali yang bisa kita buat dengan menggunakan barang bekas misalnya kita
 dapat memanfaatkan botol-botol bekas yang tidak terpakai, koran bekas dan masih banyak lagi barang-barang bekas yang dapat kita manfaatkan sehingga memiliki nilai fungsi dan nilai jual yang tinggi.

B.     SARAN
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Untuk itu kami sangat menerima saran dan masukan dari saudara.   











DAFTAR PUSTAKA

(di Akses tanggal  05 November 2015, pukul 09.00 WIB)

(di Akses tanggal 05 November 2015, pukul 09.20 WIB)
                                        
(di Akses tanggal 05 November 2015, pukul 10.00 WIB)

(di Akses tanggal 05 November 2015, pukul 10.10 WIB)

 (di akses tanggal 05 november,pukul 10.20 WIB)

 (di akses tanggal 05 november, pukul 10.30 WIB)